<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Rupiah on Ekonomi Makro dan Kebijakan Global</title><link>https://makrodankebijakan.com/tags/rupiah/</link><description>Recent content in Rupiah on Ekonomi Makro dan Kebijakan Global</description><generator>Hugo</generator><language>id</language><lastBuildDate>Fri, 24 Oct 2025 00:00:00 +0000</lastBuildDate><atom:link href="https://makrodankebijakan.com/tags/rupiah/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan: Strategi BI Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional</title><link>https://makrodankebijakan.com/posts/rupiah-dolar-as/</link><pubDate>Fri, 24 Oct 2025 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://makrodankebijakan.com/posts/rupiah-dolar-as/</guid><description>&lt;p>Dalam beberapa bulan terakhir, &lt;strong>penguatan tajam dolar AS&lt;/strong> kembali menjadi pusat perhatian pasar global.&lt;br>
Kebijakan moneter ketat dari The Federal Reserve, diikuti oleh perlambatan ekonomi global, telah menciptakan gelombang tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang — termasuk rupiah Indonesia.&lt;br>
Kondisi ini menempatkan &lt;strong>Bank Indonesia (BI)&lt;/strong> pada posisi strategis namun sulit: menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik.&lt;/p>
&lt;hr>
&lt;h2 id="1-mengapa-dolar-as-menguat">1. Mengapa Dolar AS Menguat?&lt;/h2>
&lt;p>Kenaikan suku bunga acuan The Fed yang agresif sejak 2022 merupakan faktor utama di balik &lt;strong>penguatan struktural dolar AS.&lt;/strong>&lt;br>
Dengan suku bunga di kisaran &lt;strong>5,5%–5,75%&lt;/strong>, investor global memindahkan portofolio mereka dari aset berisiko seperti saham dan obligasi negara berkembang menuju instrumen berbasis dolar yang lebih aman dan menguntungkan.&lt;/p></description></item></channel></rss>