<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Bisnis on Ekonomi Makro dan Kebijakan Global</title><link>https://makrodankebijakan.com/categories/bisnis/</link><description>Recent content in Bisnis on Ekonomi Makro dan Kebijakan Global</description><generator>Hugo</generator><language>id</language><lastBuildDate>Sun, 25 Jan 2026 14:30:00 +0000</lastBuildDate><atom:link href="https://makrodankebijakan.com/categories/bisnis/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Dampak De-globalisasi dan Strategi Near-shoring: Transformasi Struktur Biaya Produksi Manufaktur Modern</title><link>https://makrodankebijakan.com/posts/dampak-deglobalisasi-nearshoring-biaya-produksi/</link><pubDate>Sun, 25 Jan 2026 14:30:00 +0000</pubDate><guid>https://makrodankebijakan.com/posts/dampak-deglobalisasi-nearshoring-biaya-produksi/</guid><description>&lt;p>Dunia manufaktur sedang berada di titik balik yang menentukan. Selama lebih dari tiga dekade, narasi utama industri global adalah pengejaran efisiensi biaya tanpa batas melalui globalisasi yang agresif. Perusahaan berlomba-lomba mencari biaya tenaga kerja termurah di belahan dunia yang jauh, menciptakan rantai pasok yang sangat panjang dan kompleks. Namun, serangkaian disrupsi global dalam beberapa tahun terakhir telah menyingkap kerentanan sistem ini, memicu fenomena yang kini dikenal sebagai de-globalisasi.&lt;/p>
&lt;p>Saat ini, fokus industri telah bergeser dari sekadar &lt;em>lowest-cost-sourcing&lt;/em> menjadi &lt;em>resilience-first-sourcing&lt;/em>. Pergeseran ini melahirkan strategi &lt;em>near-shoring&lt;/em>, sebuah langkah berani untuk memindahkan pusat produksi dan basis pemasok lebih dekat ke pasar akhir. Transformasi ini tidak hanya mengubah peta logistik dunia, tetapi juga merombak total struktur biaya produksi yang selama ini menjadi standar industri manufaktur modern.&lt;/p></description></item></channel></rss>